Info Beranda

Perempuan Menggagas Kemajuan

Kritik dan otokritik terhadap peran yang dimainkan oleh perempuan dalam kancah publik (terlepas persoalan domestik) menjadi konsumsi pasaran yang laris manis. Terlebih pada urusan politik perempuan, hal ini akan menjadi sorotan tajam dan kecaman yang berkepanjangan. Apabila ditelisik lebih mendalam ternyata persoalan ini muncul dari pengkotakan paradigma berfikir yang sempit, terutama pada basis kedaerahan dan otonomi pemikiran yang menjangkiti alam dan keluasan memandang “lebih kedepan” sehingga gagasan kemajuan hanya menjadi onani wacana yang tidak bisa dilahirkan. Naif.

Perbedaan laki-laki dan perempuan secara biologis yaitu seks/jenis kelamin seringkali menjadikan alasan pembenaran adanya ketimpangan peran sosial perempuan dan laki-laki di masyarakat. Faktor biologis seringkali menjadi claim tentang kelemahan perempuan, karena secara biologis yang melekat pada perempuan, mereka hamil, punya anak, menyusui dan mengurus anak, sedangkan laki-laki yang legih kuat diperankan untuk mencari nafkah. Continue reading

Untuk Korban Lapindo

“Dentum amarah belum juga reda, tangisan tidak lagi bersama air mata, habis sudah sumpah serapah yang harus diucapkan, yah inilah kondisi dan realita kehidupan kita” seorang kawan tiba-tiba bergumam begitu puitis dengan sajak yang penuh duka. Dengan tiada alur yang ingin diceritakan, tapi aku mampu menangkap uraiannya yang pelan tapi penuh makna. Kembali dia meneruskan perkataan, “Kemarin aku melihat berita di TV, penderitaan berkepanjangan saudara-saudara kita di Sidoarjo, sedangkan di Senayan, wakil rakyat seakan tidak mau merasakan duka mereka. Jangankan merasakan, menengok saja mereka enggan. Bahkan dalam interpelasinya, kasus Lapindo dimasukkan dalam fenomena alam, ini berarti menguntunkan pihak Lapindo, sedangkan dana penanggulangan menjadi beban pemerintah untuk menyelesaikan, seperti halnya banjir dan bencana alam lainnya. Sedangkan masyarakat?” aku yakin kali ini dia tidak sekedar bertanya tapi mempertanyakan.
Continue reading

“Gie’

 

“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”

Sekilas tidak ada yang istimewa dari kalimat diatas, tetapi kalau kita renungi sangat dalam maknanya. Itulah salah satu ungkapan dari Soe Hok Gie (Gie). Siapa yang tidak kenal dengan tokoh yang satu ini, dikalangan aktivis kampus nama Gie bagaikan simbol dari pergerakan mahasiswa. Apalagi tahun 2005 lalu sempat di filmkan oleh Mira Lesmana dan Riri Reza bersama Miles Production dengan judul “Gie”. Bisa dikatakan film tersebut sukses besar.

Siapakah sebenarnya Gie?

Nama aslinya Soe Hok Gie, dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942, adik dari sosiolog Arief Budiman. Catatan harian Gie sejak 4 Maret 1957 sampai dengan 8 Desember 1969 dibukukan tahun 1983 oleh LP3ES ke dalam sebuah buku yang berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman. Gie meninggal di Gunung Semeru sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 — 16 Desember 1969 akibat gas beracun.
Continue reading

Sebuah Perjalanan

 

Kawan …

Sebuah perjalanan membawa Kita dalam suatu dimensi
Waktu dan ruang yang membawa sebuah perubahan
Tambatan dan ikatan akan terus bergulir
Walau sekuat apapun Kita menahannya
Semua akan berjalan dinamis …
Semua akan terjadi perubahan …

Begitu juga kisah hidup manusia
Perjalanan yang hanya sementara
Dimana tidak berhenti sebelum ajal menghampiri
Tiap detik yang terhembus, selalu memberikan arti
Memberikan bekas sejarah diri …
Apalah arti jika kita menyiakan kesempatan ini?
Apalah arti jika kita hanyalah orang yang merugi?
Continue reading

Kenapa Harus Berorganisasi?

Manusia pada dasarnya merupakan makhluk individu dan sosial sekaligus memang pusat kemanusiaan sublim. Organisasi adalah bentuk masyarakat yang terbaik karena didalamnya terdapat aturan main yang tertuang dalam peraturan organisasi dan dalam budaya organisasi, memiliki jenjang struktural yang jelas, serta memiliki tujuan. Adalah masing-masing pribadi manusia dan bahwa kemerdekaan pribadi adalah hak asasinya yang pertama. Tidak sesuatu yang lebih berharga daripada kemerdekaanya yang asasi tersebut. Namun pada saat bersamaan, manusia hidup dalam suatu bentuk hubungan tertentu (bersosialisasi) dengan dunia sekitarnya dan dengan individu lain sebagai makhluk sosial.

Bersosialisasi merupakan jalan bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaanya dengan baik. Tanpa berada ditengah sesamanya dalam bentuk-bentuk hubungan tertentu, manusia tidak dapat memenuhi kebutuhannya dan tidak dapat tumbuh mencapai tingkat kemanusiaanya yang tertinggi. Dengan demikian, dalam masyarakat itulah kemerdekaan asasi manusia selaku individu dapat diwujudkan hingga mencapai tingkatnya yang paing dan prinsip-prinsip dasar yang menginspirasi kehidupan berorganisasi yang eksplisit. Oleh karena itu, individu yang berorganisasi merupakan individu yang paling memiliki peluang mewujudkan fitrah kemanusiaannya yang merdeka, berkehendak untuk tumbuh dan saling memberi dengan yang lainnya.
Continue reading